Sabtu, 21 Januari 2017

Raja Ampat Part 1

Bismillaah Menulislah, maka kau akan kekal (imam besar) Tahun 2014 saya pernah posting gambar di ig dengan caption: raja ampat, some day I’ll be there (intinya gini). Berawal dari jarkoman tentang ekspedisi nusantara jaya, saya pun penasaran dan buka web nya. Tanpa bilang ke ortu saya mendaftar. Ngisi biodata dan persayaratan administrasi lainnya serta bikin essay. Saat mau submit, saya bingung antara jakarta atau papua barat ya pilihan keberangkatannya, mengingat ongkos dari tempat asal ga ditanggung sama kementrian maritim. Dengan mengucap bismillaah dalam hati saya mantep milih papua barat. Urusan nanti diizinin atau engga, gimana berangkatnya kesana, itu urusan belakangan. Oh iya, dulu saya ga nyangka loh di papua baratnya bakal stay di raja ampat, karna kalo di peta ada pilihan pilhan tempat lainnya kayak teluk bintuni, kaimana, fak-fak, manokwari, sausafor,saukorem, kapadiri, ayau, bahkan fani dan juga lainhya yg saya ga inget. Alhamdulillaah saya pun lolos tahap seleksi berkas dan essay. Dan jeng jeng ada tahap selanjutnya yaitu seleksi berkas kesehatan diamana kami harus melampirkan surat keterangan sehat dari dokter dan surat keterangan bebas narkoba dari rumah sakit dan itu sekitar 360.000 karna saya ke rumah sakit khusus narkoba di duren sawit, bukan rumah sakit pemerintah karna kalo di RSUD Bekasi, harus nunggu hari senin pekan depannya padahal hari jum’at adalah hari terakhir pengiriman berkas. Selain harus ngirim berkas kesehatan, juga harus kirim scan-an file semua serifikat atau bukti prestasi dan pengalaman organisasi. Akhirnya saya mau ga mau harus pulang ke bekasi, asli kok yo buat ikut ekspedisi ini saya niat banget, temen saya sampe heran, saya juga heran, waktu itu bulan agustus 2016 dimana saya baru aja nyelesein berita acara sidang proposal skripsi saya, jadi saya bukannya segera ngurus etik dan penelitian, saya malah pulang ke bekasi buat ngurus segala sertifikat karna ternyata saya gapunya sertifikat OSIS,ROHIS,PMR jadinya saya harus ke SMA buat ngurus semuanya dan butuh waktu, dan hal yg unik waktu saya ke SMA : ada hal menyebalkan tapi dibawa lucu aja sih pas ngurus berkas berkas itu ke SMA, beberapa guru yang saya temui masih inget saya (alhamdulillaah diinget cie haha padahal muridnya ratusan) dan sepertinya mereka shock dengan berat badan saya, kelihatan dari ekspersi muka dan ucapannya: diana udah nikah? Dan yang paling bikin terkenang sampe sekarang adalah ucapannya bu Eni: “habis melahirkan?” antara pengen ketawa jungkel jungkel dan pengen nangis kokosodan hahahahha,, ya wajarlah secara dulu pas SMA saya imut dan semua berubah setelah 20 kg kemudian. Jadi saya udah kebal sama yang bilang: diana kok gendut, diana gendutan, diana inget pipi,diana perut,teteh gembil, diana diet, diana elo lagi hamil ya? Alhamdulillaah di hari terakhir pengumpulan berkas, berkas saya pun terkirim, harap harap cemas juga takut ga lolos seleksi soalnya saya ga punya sertifikat pemenang lomba lomba waktu SMP jadinya saya kirim foto pialanya aja. Tanggal 26 agustus alhamdulillaah dinyatakan lolos seleksi tahap ini, antara sedih dan senag juga sih, seneng karna lolos tapi sedih juga karna temen yg dr sumatra ga lolos. Jadilah peserta perempuan yang lolos cuman 2 orang aja padahal cowoknya banyak banget.

Selasa, 11 Februari 2014

saya sudah tidak galau karna galau adalah masa maba-semester 3 hihi

untuk apa mengharapkan seseorang yang sudah jelas berbeda pikiran denganmu? mengubah mindset yang sudah mengakar itu sulit.. lagi pula, dia juga belum pasti memiliki perasaan yang sama seperti dirimu.. perempuan itu terlalu gr dan laki-laki itu mudah gombal. hanya bisa berdo'a semoga hati ini tetap terjaga dan semoga dia segera menikah, supaya tidak ada lagi harapan padanya untuk diri ini.

Kamis, 19 Desember 2013

Jika Menikahi Seorang Bidan

diana fitri lathifah

tulisan ini saya buat sebagai pengetahuan saja, bila ada kesalahan atau ketidak sesuaian silahkan dikoreksi dengan baik :D
SUATU HARI DI PERTEMUAN LINGKARAN CINTA KAMI
pendidik saya bilang: mba kalo memproses adek-adek relatif gampang soalnya,,,
saya: soalnya kalo dokter banyak yang mau ya mba,,,,, :P
pendidik saya: iya dek, kalo dari medis kayak adek-adek dokter, perawat, bidan….
SUATU HARI DI KAJIAN USTADZ SALIM
ustadz salim: saya heran di proposal ikhwan-ikhwan kok banyak yang mensyaratkan calonnya harus dokter, ini ikhwannya apakah pada penyakitan semua sehingga istrinya harus dokter?
saya: hahahhaha akhwatnya juga ga mau kali kalo punya pasangan penyakitan (dalem hati aja)
SUATU HARI DI BAKSOS RZ DI PASURUAN
saya: mba, njenengan ga mau ambil spesialis obgyn (kandungan)?
mba indri:kalo aku jadi dokter obgyn dek, keluargaku ta nomer sekiankan
saya: hhhaaaaa? (muka tidak percaya) kok bisa mba?
mba indri: soalnya nanti bakal sibuk operasi dek..
DI LAIN KESEMPATAN
suami mba A : dek, gaji cuma segitu tapi harus kerja di pusksmas dari pagi sampe sore, mending sini ta gaji jadi bojoku aja…
mba A: spicles
sebenernya ga salah si saat seorang laki-laki berkeinginan mempunyai seorang istri tenaga medis, tapi seharusnya mereka mengetahui konsekuensinya dari awal. baik kelebihan maupun resiko yang harus ditanggung.
seorang tenaga medis memang lebih mengerti tentang ilmu kesehatan, tentang gizi, tentang obat, tentang merawat anak,tentang penanganan jika ada keluarga sakit, dan (seakan) lebih tinggi status sosial di masyarakat.
namun satu hal yang sering terlupakan sebelumnya. tentang kewajibannya menolong sesama.
jangan halangi dia untuk menunaikan fardhu kifayahnya.
fardhu kifayah yang memang hanya profesinya saja yang bisa menunaikannya.
seperti bidan atau dokter kandungan dan juga perawat. para suami pasti tidak ingin kalau istrinya dirawat oleh perawat laki-laki, diperiksa oleh dokter laki-laki atau yang lebih ekstrim adalah dibantu melahirkan oleh dokter kandungan laki laki?
maka izinkanlah kami sebagai tenaga medis untuk melaksanakan fardhu kifayah kami dan menolong orang lain…
kalo saya sendiri, sebagai seorang yang cabi (calon bidan) dan juga seorang yang caem (calon emak), saya sih bakal seneng-seneng aja kalo harus ongkang-ongkang kaki di rumah tanpa harus kerja, lagian ilmu saya juga masih akan bermanfaat dan masih tetep bisa diaplikasikan meskipun cuma sedikit kalo saya gak kerja.
tapi saya ingin ada jaminan kalo suami saya nanti ga mati duluan dan saya di akhirat nanti ga dituntut karna tidak menolong orang yang membutuhkan padahal saya mampu. :D
Jika Istrimu Seorang Bidan
Jika kamu berpikir bahwa memiliki seorang bidan berarti ia memiliki banyak waktu di rumah untuk menemanimu dan keluarga, percayalah, bahwa asumsimu tak sepenuhnya benar. Aku ceritakan sedikit. Bidan. Perempuan yang separuh hidupnya berhubungan dengan perempuan, keluarga, dan anak-anak. Lahan kerja kami “sedikit”. Menolong persalinan, memeriksa ibu hamil, mendeteksi penyakit reproduksi, memberi konseling remaja dan keluarga berencana. Dari pekerjaanku inilah, aku bersyukur karena aku bisa lebih dekat dengan perempuan-perempuan di sekitarku, entah sebagai seorang ibu, seorang remaja, anak-anak, bahkan wanita tuna susila. Aku belajar banyak dari mereka.
Perempuan. Kami makhluk yang spesial, bisa multitasking. Dalam profesi bidan, aku bisa bekerja di beberapa tempat: di Rumah Sakit, puskesmas, atau membuka praktek di rumah sendiri. Di Rumah Sakit dan puskesmas, tekanan pekerjaanku cukup tinggi. Pasien yang banyak, rekan sejawat yang tidak bisa bekerja sama dengan baik, laporan harian dan bulanan yang harus diselesaikan, sampai kematian ibu atau bayi.
Ketika kau menyambutku pulang ke rumah dengan lesu, cukup berikan aku sebuah pelukan, lalu dengarkan cerita-cerita yang ingin aku sampaikan. Mungkin saja saat itu aku sedang dimarahi atasan, dimarahi pasien, atau mungkin baru saja melihat seorang ibu yang kehilangan anaknya, atau melihat seorang ibu yang meninggal setelah persalinan, lebih buruk lagi; melihat seorang ibu yang menangis karena kehilangan bayi dalam kandungannya, sedang ia telah menunggu bayi itu hadir setelah delapan tahun.
Jika aku membuka praktek bidan di rumah, aku bisa berinteraksi dengan pasien-pasienku lebih leluasa. Menolong persalinan di rumah, melakukan konseling pribadi. Sebagian waktuku akan habis aku gunakan untuk menangani klienku. Belum lagi jika ada pasien yang datang di malam hari. Ketika kau baru pulang kerja larut malam, belum tentu aku bisa menyambutmu dengan membuatkan air panas untukmu mandi atau secangkir kopi. Disaat yang sama, di ujung pintu rumah kita, bisa jadi ada seorang ibu yang kesakitan karena hendak melahirkan, atau seorang ibu dengan wajah iba mengetuk pintu rumah kita, karena anaknya menderita demam.
Jika kau mendengar suara pintu diketuk ditengah malam, dan kau melihatku tertidur, bangunkan aku dengan lembut dari tidurku. Itu akan sangat membantuku.
Jika pasien yang aku tangani memerlukan pertolongan lanjutan, tolong bantu aku mengantar pasienku ke rumah sakit. Kau mungkin tak paham mengapa pasien ini harus dibawa ke rumah sakit. Jika kau terbiasa, maka kau akan paham. Belum lagi jika agenda mingguan kita untuk pergi bersama batal karena ada yang hendak bersalin. Tolong, jangan kecewa. Bantu aku memberikan pengertian pada anak kita kelak.
Aku memang sibuk dengan pasien-pasienku di rumah, namun tak perlu khawatir. Tak perlu kau takut kelaparan hanya karena aku sibuk dengan pasienku. Aku sudah memasak untuk kau, dan pasienku yang hendak bermalam untuk melahirkan. Disela-sela pasien yang datang, aku juga menemani anak kita belajar dan mengerjakan PR.
Jika kau menikahi seorang bidan, jangan pernah berasumsi kau menikahi seorang yang kaya raya. Penghasilan kami tak seberapa. Jika lebih dari cukup, percayalah, itu hadiah dari Tuhan.
Jangan tuntut aku untuk melepas pengabdian dengan alasan menomerduakan keluarga. Bagiku, keluarga selalu nomer satu, walau aku tak selalu bisa menemani, bahkan hanya mendoakan dalam hati. tapi pengabdian takkan pernah benar-benar berhenti.
Sebagai Perempuan, aku memang terlahir dengan naluri mandiri dan multitasking. Namun, keberadaanmu disisi akan lebih menenangkan.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
submitted :
Luthfi Rizky Fitriana
http://kurniawangunadi.tumblr.com/post/66815470513/ceritajika-14-jika-istrimu-seorang-bidan

karna mereka juga punya hak atas diri kita

kalo dulu waktu semester2 awal sering pulang...
itu mah namanya cemen..
karna emang wajar,semester awal itu masih kangen2 nya rumah, kangen2 nya musuh tapi mesra (adek),kangen2 nya temen2..
tapi kalo udah semester2 akhir (5,6,7) sering pulang, itu namanya hebat..
soalnya kita udah adaptasi sama lingkungan,udah betah sama lingkungan,lingkungan udah jadi keluarga baru,,
jadi ga pulang pun ga masalah karna lingkungan yang udah kondusif membuat kita nyaman..
tapi,jangan lupakan:
dulu mba asrama saya, mba ella pernah bilang (intinya):"karna,orang lain juga punya hak atas diri kita. orang tua punya hak atas diri kita,ade2 punya hak atas diri kita, saudara2 punya hak atas diri kita, bahkan temen2 rumah pun punya hak atas diri kita. jadi, sering2 pulanglah.."
bukan berarti kita cengeng,tapi kewajiban kita memenuhi hak mereka.

ga
usah yang muluk2,cukup bantuin emak nyuci piring/masak di dapur, bantuin
ade ngerjain pr/ngejajanin/ngajak jalan-jalan ke toko buku, main bareng
sama temen lama, mijetin nenek, buatin bapak teh, atau hal sepele
lainnya yang bisa membahagiakan orang rumah.

jangan mentang2 ngerasa mahasiswa,jadi ga mau cape2 di rumah,justru
karna udah jadi mahasiswa,kita harus menjadi orang yang lebih berbakti
dan rendah hati:-)

#renungan buat diri sendiri yang hampir 4 bulan engga pulang.
padahal biasanya pulang 2bulan sekali,paling mentok 3bulan.

buat yang kampusnya kurang dr 6 jam perjalanan darat dari rumah,saran
sih pulang sebulan sekali hehe (boleh diterima boleh engga)

yang jauh rumahnya dari tempat menuntut ilmu,sering2 minta do'a dan
tanyain kabar

Kamis, 03 Oktober 2013

nikah berkah(beda harokah)

sebenernya tulisan ini beban juga buat penulis, karna penulis belum atau (semoga) tidak mengalaminya,,, takut kaburomaktan,,, hohoho...
tapi entah kenapa pengen nulis tentang ini heheh, pengen nuangin gagasan yang ada di benak, biar ga nguap terus ngilang, maka didokumentasikan lewat tulisan ini...


suka banget sama quote nya bang tere yang ini, meskipun repost berkali-kali tetep aja suka:
Hei, menikah itu bukan lomba lari, yang ada definisi siapa cepat, siapa lelet larinya. Menikah itu juga bukan lomba makan kerupuk, yang menang adalah yang paling cepat ngabisin kerupuk, lantas semua orang berseru hore.

Menikah itu adalah misteri Tuhan. Jadi tidak ada istilah terlambat menikah. Pun tidak ada juga istilah pernikahan dini. Selalu yakini, jika Tuhan sudah menentukan, maka akan tiba momen terbaiknya, di waktu paling pas, tempat paling tepat. Abaikan saja orang2 yang memang cerewet mulutnya bilang "gadis tua, bujag lapuk", atau nyinyir bilang, "kecil2 kok sudah menikah".



yup bener banget,tidak ada istilah telat nikah atau nikah dini, yang ada adalah seberapa cepat kita ingin menjemput jodoh kita,atau merelakannya lebih lama karna alasan alasan tertentu,,,

jadi, ga usah khawatir tentang jodoh,karna sebelum kita dilahirkan di dunia, perkara rezeki, hidup dan mati,sengsara bahagia sudah tertulis di lauhul mahfudz sana,,,

tinggal kita yang menentukan, mau menjemputnya, merelakannya lebih lama atau tidak menjemputnya sama sekali..

perkara bingung gimana jemputnya? hahaha apalagi kayak saya yang notabene satu kelas perempuan semua, jarang ketemu cowo,terus gimana bisa ketemu jodoh coba?
perluaslah pergaulan, itu sih yang saya inget dari nasihat seseorang tentang menjemput jodoh,,,
atau, kita bisa minta tolong guru ngaji kita buat mencarikan, bagi yang ga punya guru ngaji, bisa minta tolong langsung ke orang tua untuk mencarikan karna orang tua juga bertanggung jawab atas jodoh anaknya, seperti kisah umar yang sangat bertanggung jawab kepada anaknya saat hafsah menjada karna suaminya syahid dalam perang, maka umar pro aktif mencarikan jodoh buat hafsah r.a., bisa juga minta tolong sodara atau temen atau siapapun yang terpercaya... takut ga cocok kalo di jodohin?
kayaknya yang dulunya dijodohin atau lewat ta'arufan tingkat perceraian nya lebih dikit deh dibanding yang dulunya pacaran,, karna pacaran itu kebanyakan  kayak iklan, yang bagus2nya aja yang diliatin, yang jeleknya ditutupin, biar gak ditinggal pelanggan, ntar kalo udah nikah, baru deh keliatan jeleknya, jadinya pelanggan kecewa berat karna gak sesuai ekspektasi yang dimunculin pas waktu pacaran, jadinya tingkat perceraian tinggi,,,, lagian kan kita udah dijanjiin kalo orang yang baik bakal dapet orang yang baik juga :D (loh kok jdi nelantur ke sini sih :D)

hehehehe.. oh iya, tentang niat nikah juga, niat nikah kita harus karna Allah ta'ala.. bukan karna yang lain,,,
pernah ada kisah nyata, tentang sepasang suami istri yang nikah, sang suami nikah biar nanti pas wisuda udah punya PW (bukan panny wahyuningrum ya.. :P) alias pendamping wisuda, dan sang istri nikah biar hidupnya ada yang nanggung,biar ga usah nyari uang lagi karna ditanggung sama suami,,,

alhasil... pas waktunya wisuda suami, sang istri mengalami abortus iminen alias terancam aborsi karna kandungannya lemah, so sang istri harus bedrest dan sang suami akhirnya ga punya PW :D

alhasil,,, karna sang suami kerjanya belum tetap juga, jadi mereka harus hidup irit sampe-sampe soto seporsi dibuat makan berdua dan berkali-kali,,,

akhirnya mereka sadar bahwa pernikahan harus diniatkan karna Allah Semata,, akhirnya mereka memperbaiki niat dan alhamdulillah sekarang sudah punya 2 anak dan rumah serta hidup yang bisa dibilang lumayan mapan,,, :D Alhamdulillah...



terus kalo nikah beda harokah gimana? (bagi yang ga tau harokah itu apa, harokah itu pergerakan, untuk lebih jelasnya silahkan mencari sendiri ya? :D


hm,,, sempet jadi trending topic juga tuh tentang nikah beda harokah,,,

keinget seorang temen yang bilang: dan hati-hati juga sama jamaah yang ngelarang kadernya menikah engan jamaah lain (intermezzo)

baca kata-kata itu saya langsung cengo dan bertanya-tanya: emang ada ya yang kayak gitu?
setelah saya cek n ricek alias tabbayun ke orang yang In syaa Allah paham, beliau menjelaskan sebenernya itu hanya anjuran saja, karna kalo satu harokah akan satu misi dan VISI dalam da'wah jadi tidak perlu khawatir akan keleluasaan berda'wah setelah menikah.


saya pikir-pikir iya sih gak lucu juga kalo misalnya nanti kalo udah nikah tiba2 dilarang menuntut ilmu sama orang ini itu dsb, ga boleh keluar rumah, ga boleh keluar kota dll,,,
kayak kisah seorang mbak yang saya diceritain sama mba pendamping saya:
ada seorang akhwat nikah sama ikhwan yang beda pergerakan, terus akhwatnya dateng ke sahabatnya curhat kalo dia mau bunuh diri. ternyata setelah ditelusuri, mba nya itu gaboleh keluar rumah, sampe belanja aja dibeliin suaminya, ga boleh kb jadinya anaknya buanyak, karna ga pernah aktualisasi diri dan juga stress karna banyak anak dan ga boleh keluar rumah,, jadilah seperti itu.


kalo menurut sy sendiri intinya sih, nikah itu kan untuk menuju surga, sebenernya gak masalah mau nikah sama siapa aja sama golongan mana aja yang penting tujuannya menuju surga dan tidak membatasi kita untuk beraktualisasi diri apalagi berda'wah.

kalo saya sendiri gimana? prinsip saya sama  seperti yang saya paparkan diatas.
tapi saya adalah seorang penganut sebisa mungkin sedikit perbedaan. jadi kalo bisa, perbedaan itu sedikit sekali, tidak hanya harokah bahkan juga suku?

eh, emang saya berharokah? emang suku saya apa? wong saya aja belom jelas, masih mencari-cari,,,
wong saya aja anak campuran, bukan dari satu suku hahahhaah :D

Kamis, 11 Juli 2013

es batu(k)

Sering denger kalo lagi batuk ga boleh minum es?
Atau  pernah denger jangan minum es ntar batuk,,,,?
Masa sih?

haha  dulu saya kira juga iya,,,

kok bisa ya? emang gimana prosesnya?
jadi, es itu kan dingin, dan sesuatu yang dingin itu bersifat vaso konstriktor atau istilah gaulnya membuat pembuluh darah menjadi menyempit..
terus? apa hubungannya?

jadi, pas es ngelewatin kerongkongan, maka pembuluh darah di kerongkonan jadi kecil dan akhirnya sel darah putih ga bisa lewat karna sel darah putih ukurannya besar,,,,
karna sel darah putih yang fungsinya membunuh kuman and the gank ga ada, maka kuman and the gank yang jadi penyebab batuk ga ada yang ngelawan... so akhirnya mereka merajarela dan terjadilah batuk,,, hohoho

tapi saya suka banget sama es,,, gimana ya caranya biar bisa minum es tapi nggak batuk?
sebenernya sih yang bikin batuk bukan karna es nya... tapi karna menyempitnya pembulih darah sehingga sel darah putih ga bisa lewat, so kalo pengen ga batuk, kita harus membuat pembuluh darah yang berkonstriksi menjadi dilatasi atau bahasa gaulnya kita harus membuat pembuluh darah yang menyempit tadi kembali melebar,,,
caranya? abis minum es, terus minum anget karna sesuatu yang anget bersifat vasodilator...

tapi kan kalo abis minum dingin terus minum anget, ntar giginya bisa jadi ngilu...?

maka
ya, minumnya jangan kena gigi hehehhe..

ribet ya,,,?
makanya yang sedang sedang aja kalo bisa,,, :D

Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, jika beliau membuat roti Tsarid maka beliau tutupi roti tersebut dgn sesuatu sampai panasnya hilang. Kemudian beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hal tersebut lebih besar berkahnya.” (HR. Darimi no. 2047 & Ahmad no. 26418, Syaikh al-Albani memasukkan hadits ini dlm Silsilah Shahihah no. 392)

MMM

MMM Itu singkatan dari meja,mobil,n me bukan mendadak menjadi madura ya..hehe(baru pulang baksos dari probolinggo soalnya)

Kalo ditanya pengennya gimana sih,pengen nya udah liburan di rumah,ketemu sodara dan temen2.
Ngarepnya;bisa tidur di kamar sendiri,teraweh jama'ah di masjid,sahur bareng emak+babe+adeks,buat bakwan+sambel kacang dan es buah buat bukaan puasa..
Sayangnya kenyataan berkata lain;saat orang2 pake putih putih buat teraweh,saya juga pake putih-putih,tapi bukan putih putih mukena,tapi bukan putih putih pocong juga :-D,tapi putih2 baju klinik,karna..
Yup,saya lagi praktik klinik,,,
jaga di rumah bersalin,dan berharap ada yang melahirkan..
Kalo ga ada yg melahirkan ya periksa hamil dan suntik kb.
Jadinya harus teraweh sendirian di kamar dan itupun setelah jam jaga selesai atau harus rela teraweh tapi gak ikut witir jamaah karna harus mulai jaga jam 8 malem kalo lagi shift malem, tidur sendirian di ranjang yang kayak ranjang buat pasien,sahur+buka puasa harus beli,dan kalo di rumah biasanya minum teh anget seduhan emak,sekarang kalo buka harus rela minum teh buatan pabrik "red teh gelas"
terus,jangan dikira jaga itu enak,,
karna ga semua mba bidan yang ada di klinik ramah sama kita, ada yang kalo kita senyumin bales senyum,tapi ada juga yg boro2 bales senyum,bahkan kalo ditanya mau jawab dengan nada yang biasa aja udah syukur..
Bahkan ada temen yang bilang:kalo kita pindah rotasi nanti,siapin barang 1 koper dan mental 2 koper..hahaha
karna selain tekanan juga ada laporan-laporan yang bikin deg-degan..

Kondisi yang ga seperti biasanya ditambah suasana yang ga nyaman,,

buat pengen cepet2 pulang..

Tapi ah..
Mobil yang ada di showroom pun dulunya saat masih jadi besi, harus dibakar dulu di api yang panasnya ratusan derajat baru bisa jadi mobil yang direbutin orang..

meja kayu jati pun,sebelum jadi meja,harus digergaji, dipaku,di amplas dan di plitur dulu baru bisa jadi meja yang bisa berguna buat orang..
Jadi,sebelum kita jadi bidan,maka kita harus melewati proses tempaan yang sama kayak mobil dan meja..
Biar tahan banting dan bisa bermanfaat..:D

Jika kamu bersyukur,maka akan aku tambah nikmat -Ku,tapi jika kamu ingkar,maka adzab-Ku amat pedih..

Sungguh,setelah kesulitan itu ada kemudahan..
Maka sungguh,setelah kesulitan itu ada kemudahan..

Berlelah-lelah lah..
Karna manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.. :-D